The New Criminal Code Comes into Effect in Indonesia: Key Changes You Need to Understand

5/8/20246 min read

Pendahuluan

Indonesia telah memasuki babak baru dalam sistem hukum pidana nasional dengan berlakunya Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Nasional, atau yang lebih dikenal sebagai KUHP Baru. KUHP Baru ini diatur dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana dan mulai berlaku pada 2 Januari 2026.

Berlakunya KUHP Baru menjadi salah satu perubahan besar dalam sejarah hukum pidana Indonesia. Hal ini karena Indonesia tidak lagi sepenuhnya bergantung pada KUHP lama yang berasal dari warisan kolonial, melainkan telah memiliki kodifikasi hukum pidana nasional yang disusun berdasarkan kebutuhan hukum masyarakat Indonesia saat ini.

Perubahan ini penting untuk dipahami, tidak hanya oleh aparat penegak hukum, tetapi juga oleh masyarakat, pelaku usaha, perusahaan, dan pihak-pihak yang berpotensi berhadapan dengan proses hukum pidana. Dalam praktiknya, perubahan hukum pidana dapat berdampak pada cara suatu perbuatan dinilai sebagai tindak pidana, bentuk pertanggungjawaban pidana, jenis pidana yang dapat dijatuhkan, hingga strategi pembelaan dalam perkara pidana.

Artikel ini membahas secara ringkas dan mudah dipahami mengenai apa itu KUHP Baru, kapan mulai berlaku, apa saja perubahan pentingnya, serta mengapa pendampingan advokat menjadi penting dalam menghadapi perkara pidana di Indonesia.

Apa Itu KUHP Baru?

KUHP Baru adalah hukum pidana nasional yang mengatur mengenai perbuatan-perbuatan yang dilarang, bentuk pertanggungjawaban pidana, jenis pidana, tindakan, serta ketentuan umum dalam hukum pidana Indonesia.

Secara umum, KUHP Baru terdiri dari dua bagian utama, yaitu:

  1. Buku Kesatu tentang Aturan Umum
    Bagian ini mengatur prinsip-prinsip dasar hukum pidana, seperti asas legalitas, pertanggungjawaban pidana, alasan pemaaf, alasan pembenar, pidana, tindakan, serta ketentuan umum lainnya.

  2. Buku Kedua tentang Tindak Pidana
    Bagian ini mengatur jenis-jenis tindak pidana, unsur perbuatan pidana, serta ancaman pidana terhadap perbuatan tertentu.

Dengan berlakunya KUHP Baru, sistem hukum pidana Indonesia mengalami penyesuaian baik dari sisi konsep, pendekatan pemidanaan, maupun penegakan hukum.

Kapan KUHP Baru Berlaku?

KUHP Baru diundangkan pada 2 Januari 2023 dan berdasarkan ketentuan penutupnya, undang-undang ini mulai berlaku setelah 3 tahun sejak tanggal diundangkan. Dengan demikian, KUHP Baru berlaku efektif sejak 2 Januari 2026.

Artinya, sejak tanggal tersebut, ketentuan dalam UU Nomor 1 Tahun 2023 menjadi dasar utama dalam hukum pidana nasional Indonesia, dengan tetap memperhatikan ketentuan pidana dalam undang-undang khusus yang masih berlaku dan telah disesuaikan melalui regulasi terkait.

Mengapa KUHP Baru Penting?

Berlakunya KUHP Baru penting karena membawa pembaruan terhadap sistem hukum pidana Indonesia. Beberapa alasan utamanya adalah:

1. Mewujudkan Hukum Pidana Nasional

KUHP Baru merupakan upaya pembaruan hukum pidana yang lebih sesuai dengan karakter, nilai, dan perkembangan masyarakat Indonesia.

2. Menyesuaikan dengan Perkembangan Zaman

Perkembangan teknologi, bisnis, hubungan sosial, dan pola kejahatan membuat hukum pidana harus mampu merespons kebutuhan hukum modern.

3. Mengatur Pertanggungjawaban Pidana Secara Lebih Sistematis

KUHP Baru mengatur lebih jelas mengenai siapa yang dapat dimintai pertanggungjawaban pidana, termasuk orang perseorangan maupun korporasi.

4. Memberikan Arah Baru dalam Pemidanaan

Pemidanaan tidak lagi hanya berorientasi pada penghukuman, tetapi juga mempertimbangkan aspek keadilan, pemulihan, dan keseimbangan antara pelaku, korban, dan masyarakat.

Perubahan Penting dalam KUHP Baru

Berikut beberapa perubahan penting dalam KUHP Baru yang perlu diketahui masyarakat dan pelaku usaha.

1. Penegasan Asas Legalitas

Dalam hukum pidana, seseorang hanya dapat dipidana apabila perbuatannya telah diatur sebagai tindak pidana dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku. Prinsip ini dikenal sebagai asas legalitas.

Asas ini penting untuk memastikan bahwa proses pidana tidak dilakukan secara sewenang-wenang. Dengan adanya asas legalitas, setiap orang memiliki kepastian hukum mengenai perbuatan apa saja yang dilarang dan dapat dikenakan sanksi pidana.

2. Pengaturan Pertanggungjawaban Pidana

KUHP Baru memberikan perhatian besar terhadap pertanggungjawaban pidana. Dalam perkara pidana, tidak cukup hanya membuktikan adanya perbuatan, tetapi juga harus dianalisis apakah pelaku dapat dimintai pertanggungjawaban secara hukum.

Hal ini penting karena dalam praktik, suatu peristiwa pidana dapat melibatkan berbagai kondisi, seperti kesengajaan, kelalaian, keadaan memaksa, pembelaan terpaksa, atau alasan lain yang dapat memengaruhi pertanggungjawaban pidana seseorang.

3. Pertanggungjawaban Pidana Korporasi

Salah satu hal penting dalam KUHP Baru adalah pengaturan mengenai pertanggungjawaban pidana korporasi. Artinya, tidak hanya orang perseorangan yang dapat menjadi subjek hukum pidana, tetapi juga badan hukum atau korporasi.

Hal ini sangat relevan bagi perusahaan, direksi, komisaris, pengurus, dan pemegang kebijakan dalam suatu badan usaha. Dalam kondisi tertentu, perbuatan yang dilakukan dalam lingkup kegiatan korporasi dapat menimbulkan konsekuensi pidana bagi korporasi maupun pihak-pihak yang terlibat.

Oleh karena itu, perusahaan perlu memperhatikan aspek kepatuhan hukum, tata kelola, dokumentasi, perizinan, hubungan kerja, transaksi komersial, serta pengawasan internal agar dapat meminimalkan risiko pidana.

4. Perubahan Sistem Pidana dan Pemidanaan

KUHP Baru mengatur jenis pidana secara lebih sistematis. Pemidanaan tidak hanya dilihat sebagai bentuk pembalasan, tetapi juga sebagai instrumen untuk memperbaiki, mencegah, dan memulihkan keadaan tertentu.

Dalam praktiknya, hakim dapat mempertimbangkan berbagai aspek sebelum menjatuhkan pidana, seperti tingkat kesalahan, akibat perbuatan, keadaan pelaku, kerugian korban, dan nilai keadilan dalam masyarakat.

5. Pidana Denda Berdasarkan Kategori

KUHP Baru menggunakan sistem pidana denda berdasarkan kategori. Sistem ini memberikan struktur yang lebih jelas mengenai besaran denda sesuai dengan jenis tindak pidana dan tingkat kesalahannya.

Bagi pelaku usaha, sistem pidana denda ini perlu diperhatikan karena tindak pidana tertentu yang melibatkan korporasi dapat menimbulkan konsekuensi finansial yang signifikan.

6. Perhatian terhadap Korban

KUHP Baru juga menunjukkan perhatian terhadap posisi korban dalam perkara pidana. Dalam perkembangan hukum modern, korban tidak lagi dipandang sebagai pihak pasif, tetapi sebagai pihak yang memiliki kepentingan hukum yang perlu diperhatikan.

Dalam beberapa perkara, pemulihan terhadap korban, ganti kerugian, atau penyelesaian yang berorientasi pada keadilan dapat menjadi bagian penting dalam proses penanganan perkara pidana.

7. Pengaturan Tindak Pidana yang Lebih Luas

KUHP Baru mengatur berbagai jenis tindak pidana yang relevan dengan perkembangan masyarakat. Beberapa tindak pidana yang sering menjadi perhatian publik antara lain tindak pidana terhadap nyawa, tubuh, kehormatan, kemerdekaan orang, harta benda, ketertiban umum, serta tindak pidana tertentu yang berkaitan dengan kepentingan masyarakat.

Namun, setiap perkara pidana harus tetap dianalisis berdasarkan unsur pasal yang berlaku. Tidak semua perbuatan yang merugikan seseorang otomatis dapat dikategorikan sebagai tindak pidana. Diperlukan analisis terhadap unsur perbuatan, kesalahan, akibat, alat bukti, dan hubungan sebab akibat.

Dampak KUHP Baru bagi Masyarakat

Bagi masyarakat, berlakunya KUHP Baru memiliki beberapa dampak penting, antara lain:

  • masyarakat perlu memahami perbuatan apa saja yang dapat menimbulkan risiko pidana;

  • setiap orang perlu lebih berhati-hati dalam bertindak, berkomunikasi, dan membuat pernyataan;

  • korban tindak pidana perlu memahami hak-haknya dalam proses hukum;

  • pihak yang dilaporkan, terlapor, tersangka, atau terdakwa perlu memahami hak pembelaannya;

  • penyelesaian perkara pidana perlu dilakukan dengan strategi hukum yang tepat sejak awal.

Dalam perkara pidana, kesalahan dalam memberikan keterangan, mengabaikan panggilan, tidak memahami hak hukum, atau tidak menyiapkan bukti dapat menimbulkan risiko yang lebih besar.

Dampak KUHP Baru bagi Pelaku Usaha dan Perusahaan

Bagi pelaku usaha, KUHP Baru perlu diperhatikan karena risiko pidana tidak hanya dapat timbul dari tindakan individu, tetapi juga dari kegiatan usaha perusahaan.

Beberapa risiko yang perlu diperhatikan oleh perusahaan antara lain:

  • risiko pidana dalam perjanjian dan transaksi bisnis;

  • risiko pidana dalam pengelolaan keuangan perusahaan;

  • risiko pidana dalam hubungan ketenagakerjaan;

  • risiko pidana dalam perizinan usaha;

  • risiko pidana dalam kegiatan pemasaran dan informasi publik;

  • risiko pidana dalam penggunaan dokumen, data, dan laporan;

  • risiko pidana korporasi akibat tindakan pengurus atau pihak yang bekerja untuk perusahaan.

Oleh karena itu, perusahaan sebaiknya tidak hanya fokus pada aspek komersial, tetapi juga memperkuat kepatuhan hukum melalui legal review, audit internal, penyusunan kebijakan perusahaan, pelatihan kepatuhan, serta pendampingan hukum secara berkelanjutan.

Pentingnya Pendampingan Advokat dalam Perkara Pidana

Perkara pidana merupakan perkara yang memiliki risiko serius karena dapat berdampak pada kebebasan, reputasi, pekerjaan, bisnis, dan masa depan seseorang atau perusahaan. Oleh karena itu, pendampingan advokat sangat penting sejak tahap awal.

Advokat dapat membantu dalam hal:

  • memberikan analisis hukum terhadap dugaan tindak pidana;

  • menilai apakah unsur pidana telah terpenuhi;

  • mendampingi proses klarifikasi, penyelidikan, dan penyidikan;

  • mendampingi pemeriksaan sebagai saksi, terlapor, tersangka, atau terdakwa;

  • menyusun strategi pembelaan;

  • menyiapkan alat bukti dan dokumen pendukung;

  • mengajukan permohonan hukum yang diperlukan;

  • mendampingi proses persidangan;

  • memberikan langkah hukum lanjutan apabila diperlukan.

Pendampingan hukum sejak awal sangat penting untuk memastikan hak-hak hukum tetap terlindungi dan proses hukum berjalan sesuai ketentuan yang berlaku.

Kapan Harus Menghubungi Pengacara Pidana?

Seseorang sebaiknya segera berkonsultasi dengan pengacara pidana apabila mengalami kondisi berikut:

  • menerima panggilan dari kepolisian;

  • dilaporkan dalam dugaan tindak pidana;

  • menjadi korban tindak pidana;

  • diminta memberikan keterangan sebagai saksi;

  • mengalami penggeledahan atau penyitaan;

  • perusahaan menerima laporan atau pengaduan pidana;

  • terdapat dugaan penipuan, penggelapan, pemalsuan, pencemaran nama baik, atau tindak pidana lainnya;

  • membutuhkan legal opinion mengenai risiko pidana dalam suatu tindakan atau transaksi.

Semakin awal pendampingan hukum dilakukan, semakin baik strategi yang dapat disusun.

Kesimpulan

Berlakunya KUHP Baru menandai perubahan besar dalam sistem hukum pidana Indonesia. KUHP Baru tidak hanya menggantikan KUHP lama, tetapi juga membawa pendekatan baru dalam pertanggungjawaban pidana, pemidanaan, perlindungan korban, serta pengaturan pidana terhadap orang perseorangan maupun korporasi.

Bagi masyarakat dan pelaku usaha, memahami KUHP Baru menjadi penting agar setiap tindakan, keputusan, dan kegiatan usaha dapat dilakukan dengan lebih hati-hati dan sesuai hukum.

Apabila Anda menghadapi permasalahan hukum pidana, baik sebagai korban, saksi, terlapor, tersangka, terdakwa, maupun perusahaan yang memiliki risiko pidana, pendampingan advokat sejak tahap awal dapat membantu melindungi hak dan kepentingan hukum Anda.

Lawgika & Associates Law Firm memberikan pendampingan hukum pidana secara profesional, strategis, dan berorientasi pada perlindungan kepentingan hukum klien.

HEAD OFFICE

Lawgika Office, World Capital Tower Lt. 38 unit 6-7, Jl. Dr. Ide Anak Agung Gde Agung, Mega Kuningan, Jakarta Selatan, DKI Jakarta, Indonesia

EMAIL :

Copyright 2025, Lawgika & Associates Law Firm. All Rights Reserved.

phone :

OUT PARTNERS

OPERATION HOURS

MONDAY - FRIDAY

08:00 - 17:00

Whatsapp :

Address. :